Uji Coba Ilmu Falak Metode Rashdul Qiblah Darul Mursyid Sukses

Dalam memelihara khazanah keilmuan ilmu falak atau astronomi, Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid yang beralamat di Sidapdap Simanosor Kecamatan Saipar Dolok Hole Kabupaten Tapanuli Selatan tetap mengikuti perkembangan teknologi yang pada dasarnya sangat mempengaruhi kesempurnaan ibadah ummat muslim salah satunya tentang arah qiblat yang telah ditegaskan juga dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 150 tentang kewajiban menghadap qiblat khususnya dalam menjalankan ibadah shalat 5 waktu dan ibadah sunnah lainnya.

Kepala Divisi Pembinaan Ibadah PDM Muhammad Hamdani mengatakan, tentang rashdul qiblah dan kesimpulan uji coba metode rashdul qiblah yang telah dilakukan di Masjid Hj. Khadijah PDM. “Rashdul Qiblah merupakan peristiwa ketika lintang ka’bah sama dengan deklinasi matahari, pada saat itu matahari berkulminasi atau berada tepat diatas ka’bah yang menyebabkan arah jatuhnya bayangan suatu benda yang terkena sinar matahari dan berdiri tegak lurus akan mengarah lurus ke ka’bah. Peristiwa Rashdul Qiblah terjadi dua kali dalam satu tahunya itu tepatnya pada tanggal 28 Mei jam 12:18 waktu Makkah atau 16:18 WIB dan tanggal 16 Juli jam 12:27 waktu Makkah atau 16:27 WI Buntuk tahun Basithah (pendek), sementara untuk tahun Kabisath terjadi pada tanggal 27 Mei dan 15 Juli dengan jam yang sama.

Dan cara pelaksanaan rashdul qiblah harus melalui beberapa langkah pertama, menentukan masjid atau mushalla yang akan diukur arah kiblatnya, kedua siapkan tongkat lurus atau benang berbandul, ketiga mencari lokasi yang datar yang dapat tersinari matahari secara langsung, keempat pasang tongkat secara tegak lurus atau gantungkan benang yang berbandul, ke lima tunggu sampai peristiwa dengan patokan jam yang telah diatur sesuai dengan jam BMKG, lanjut Hamdani.

Hamdani juga menambahkan, bukan teori semata tentang rashdul qiblah, kita juga mengadakan uji coba arah kiblat masjid Hj. Khadijah di PDM pada kamis 16 Juli 2020 kemarin menggunakan alat QIBLAT TRACKER. Dari hasil pengamatan, pengukuran dan perhitungan arah kiblat dengan menggunakan metode rashdul qiblah, kami memperoleh data 01’,78” LU dan 99’,36” BT sehingga dapat disimpulkan arah kiblat dari utara sebenarnya dengan nilai 293, 48°. Alhamdulillah hasilnya sesuai harapan kita bersama, arah kiblat masjid Hj. Khadijah telah sesuai dengan arah kiblat yang sebenarnya.

Pada kesempatan yang sama Yusri Lubis yang menjabat sebagai Direktur PDM juga mengungkapkan rasa syukurnya bahwa setelah di lakukannya pengamatan, pengukuran dan perhitungan arah kiblat masjid Hj. Khadijah sesuai dengan arah kiblat yang seharusnya.

“Alhamdulillah, setelah dilakukannya pengamatan, pengukuran, dan perhitungan berdasarkan metode rashdul qiblah, yang merupakan metode acuan penentuan arah qiblat seluruh umat muslim di muka bumi ini, bisa menghilangkan rasa was-was atau keraguan dalam diri kita saat menunaikan ibadah Sholat lima waktu. Ungkap Yusri.

Lanjut Yusri lagi, ketika akan membangun sebuah Masjid maupun Mushalla, yang paling didahulukan adalah menentukan posisi arah qiblat, disamping merencanakan konstruksi dan design bangunan yang diinginkan. Namun masih banyak didapati adanya penentuan arah qiblat dengan rasa-rasa, arah masjid yang berdekatan, ada juga yang diarahkan kearah matahari sore menjelang terbenam dengan membentuk bayangan suatu benda atau tongkat, tanpa memperhatikan arah matahari pada tanggal, bulan dan tahun berapa, namun dengan cara ini kita dapat menentukan arah kiblat dengan baik hanya saja tinggal kita melihat tanggal, bulan serta jam di daerah tempat tinggal kita, apakah WIB, WITA atau WIT.

Jafar Syahbudin Ritonga sebagai Ketua Umum Yayasan Pendidikan Haji Ihutan Ritonga (Yaspenhir) memberikan apresiasi yang tinggi tentang penerapan ilmu falak di PDM, dan menyatakan harapan terbesarnya untuk menjadikan PDM dengan ilmu sainsnya menjadi lembaga pemberdayaan umat ke depannya.

“Ilmu falak saat ini sudah jarang diminati dan diterapkan di sekolah atau pesantren, hal ini dapat dibuktikan dengan melihat bahwasanya yang ahli dalam bidang ilmu falak saat ini hanya Dr. Buya Arso, S.Ag yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada hal ilmu Falak merupakan warisan berharga dari ulama terdahulu dan merupakan salah satu bukti keunggulan peradaban Islam yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap astronomi modern.

“Untuk melanjutkan warisan dari ulama terdahulu maka Pesantren Darul Mursyid berkomitmen mengkaji kembali kajian ilmu Falak yang sudah mulai hilang dari dunia pendidikan yang memungkinkan akan mengakibatkan kekeliruan dalam penentuan arah dan waktu dalam beribadah, melalui pendidikan yang diberikan pada siswa-siswi PDM. Yang mana harapan kami ke depan PDM bisa melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang paham akan ilmu falak dan bisa bermanfaat bagi banyak umat khususnya islam suatu hari nanti,” ungkap Jafar.

Leave a Comment

Your email address will not be published.