Oleh
Tantomi Simamora, S.Sos.I
Guru Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid (PDM)
Kab. Tapanuli Selatan

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Q.S Al-Isra:37).

Antara prestasi dan kesombongan adalah dua mata pisau yang bisa sebagai alat untuk bertahan, tetapi juga bisa melukai orang lain. Sedikit saja lari dari prestasi yang hakiki, maka ia akan berubah menjadi pisau yang sangat berbahaya bagi diri sendiri juga bagi orang lain. Kesombongan memang selalu menjadi penghalang untuk meraih ridha-Nya. Kita sudah lihat sejarah tentang bahaya sikap sombong seperti setan yang dihukum karena ia sombong merasa paling berilmu sehingga tidak mau sujud pada Adam. Akhirnya mereka termasuk golongan sesat yang kelak akan menjadi penghuni neraka.


Setan terkutuk karena kesombongan. Berawal dari rasa puas, bangga terhadap diri sendiri sampai kepada kehilangan jati dirinya secara hakiki, sehingga ia merasa lebih super dari makhluk ciptaan Allah yaitu manusia. Kepiawaiannya dalam menggoda manusia kepada kesesatan adalah merupakan yang mutlaq bagi mereka. Keprofesionalan para setan dalam bekerja sudah tak perlu lagi diragukan, mulai dari kekonsistenan, pengorbanan sampai kepada strategi-strategi ampuh untuk melemahkan manusia. Tingkat kecerdasannya yang tinggi justru mengantarkannya kepada jalan kesesatan yang abadi yaitu menjadi penghuni tetap di neraka yang telah dijanjikan oleh Allah pada hari kiamat nantinya. Begitu juga Firaun yang karena kesombongan dan kekuasaannya sehingga ia mengaku sebagai Tuhan. Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang memberi pelajaran berharga bagi kita untuk tidak sekali-kali bersikap sombong kepada siapapun. Sombong hanyalah milik Allah Swt, tidak akan bisa dimiliki oleh manusia.


Memang tidak dapat dipungkiri sesuai dengan tujuan setan untuk menggoda manusia ke jalan yang sesat, mereka akan selalu mengintai hamba-Nya untuk melakukan dosa. Mungkin inilah sebabnya kita banyak yang mewarisi sifat sombong dari setan. Sering kali hati kita merasa bangga dengan pencapaian prestasi, terlena dengan pujian yang berujung kepada sombong. Ketika sudah sampai pada level sombong, maka dengan sendirinya ia akan mulai merendahkan orang lain. Isya Alamsah pernah mengatakan dalam bukunya “Humortivasi 2015” “Sombong dan bangga hanya punya perbedaan tipis karena itu harus berhati-hati dalam mengungkapkannya. Jika kebanggaan dijadikan bahan untuk memotivasi, itu akan berdampak positif. Akan tetapi jika kebanggaan dijadikan alat untuk unjuk gigi kelebihan seseorang atas orang lain, itu bisa berujung kesombongan”.


Hal inilah yang harus benar-benar kita perhatikan dalam diri kita. Ketika sombong sudah menguasai hati, maka hati yang sebelumnya lembut akan berubah menjadi sangat keras sehingga tidak bisa menerima nasehat walaupun itu sebenarnya baik. Ketika sombong telah menguasai hati, maka pada hakikatnya telah mengingkari fitrah sebagai manusia yang cinta akan kebenaran. Intinya ketika kita mulai sombong, maka sebenarnya kita telah menodai diri kita sendiri. Ketinggian hati, rasa lebih hebat, lebih kuat hanyalah perasaan palsu. Padahal sebenarnya kita lemah dan tidak berdaya.


Angkuh dan sombong adalah penyakit hati yang sangat sulit untuk diobati. Bahayanya penyakit ini salah satunya bisa lupa diri dalam waktu yang cukup lama sehingga ketika sudah wafat baru benar-benar sadar bahwa manusia tidak berdaya. Maka sebelum menyesal  hendaknya kita bisa mengobati diri dengan obat hati seperti membaca Al-qur’an, berzikir dan beribadah sesuai dengan syari’at Islam. Sebab penyakit itu tidak akan pernah sembuh selama kita tidak mau mensucikan hati serta mengembalikan semuanya hanya kepada Allah Swt.

Termasuk untuk menghindari sikap sombong adalah kita harus menyadari bahwa segala yang kita usahakan bukan hanya karena usaha kita sendiri, tetapi dalam suatu keberhasilan ada campur tangan Allah Swt yang sering kita lupa. Saat kita susah sering kali kita berdo’a dengan sungguh-sungguh agar terhindar dari kesusahan itu, tetapi ketika kesusahan itu tidak ada lagi, tidak sedikit yang malah lupa dengan sang pemberi, yaitu Allah Swt. Prilaku yang seperti adalah orang yang lupa diri dan tidak bersukur karena ada rasa sombong. Itulah bahayanya sikap sombong sampai lupa kepada Allah Swt. Firman Allah dalam Al-qur’an: Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (Q.S Yunus: 12).