Intropeksi Diri

Oleh: Ali Sakti Rambe
Guru di Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid
Kab. Tapanuli Selatan

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa.” (HR. Bukhari)

Manusia, sekali pun seorang muslim dalam perjalanan hidupnya di dunia tidak terlepas dari kesalahan dan dosa-dosa. Baik disengaja maupun tidak disengaja, apakah karena lupa maupun tidak. Tidak seorang pun dari manusia yang luput dari perbuatan salah. Sebagimana disebutkan oleh Rasulullah Saw dalam hadisnya: “Setiap anak Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat dari kesalahannya.” (HR. Tirmidzi dan Hasan) Juga pepatah orang Arab yang sudah sangat familiar di kalangan umat muslim, yakni: “Manusia tempatnya salah dan lupa.” Karena itu, tidak sepantasnya terbesit dalam hati seorang muslim merasa paling suci, merasa paling baik, merasa paling bersih dari dosa dibandingkan orang lain. Karena itu bukan bahagian dari ajaran Rasulullah Saw yang mulia.

Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari hadis Rasul Saw di atas, di antaranya: Pertama, setiap anak Adam (manusia) pasti pernah melakukan kesalahan. Karenanya, jangan pernah merasa paling baik dan paling bersih dari dosa, apalagi sampai menganggap orang lain lebih rendah dan lebih hina. Kedua, meski dengan derajat kerasulan sekaligus penghulu sekalian alam yang Allah Swt anugerahkan kepada Rasulullah Saw, beliau masih tetap membuka diri untuk diingatkan seandainya beliau lupa. Sikap tersebut menunjukkan, bahwa beliau tidak menutup diri dari segala saran dan masukan-masukan dari para sahabat-sahabatnya. Meskipun beliau seorang utusan Allah, yang andai beliau mau, apa saja yang ia sampaikan dan tetapkan pasti didengarkan dan ditaati oleh para pengikutnya, yakni umat Islam. Sebuah sikap yang sangat pantas untuk di contoh oleh setiap orang muslim, siapa pun orangnya. Apakah pemimpin, pejabat negara, tokoh adat, bahkan tokoh agama sekali pun. Harus membuka diri untuk diingatkan dan diberikan saran serta masukan, andai sikap atau kebijakan yang diambilnya dianggap kurang pas dan kurang sesuai dengan pandangan syariat agama. Tentunya, bagi orang yang memberikan saran dan masukan juga harus memperhatikan norma-norma agama, yakni dengan kebaikan dan kelemahlembutan. Ketiga, bersedia mengakui kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya. Dengan demikian, harta, tahta, status sosial, serta status-status lainnya tidak akan membuat pribadi seorang muslim merasa paling jumawa dibanding orang lain.

Sesama muslim, harus senantiasa saling menghargai dan saling menghormati perbedaan, baik individu maupun golongan. Tidak dibenarkan merasa paling baik dan paling mulia. Tentang bagaimana cara agar lebih mudah untuk menghormati dan menghargai orang lain, mari sama-sama kita renungkan baik-baik pesan hikmah dari Syeikh Abdul Qodir al-Jaelani. Beliau menasehatkan: “Jika kamu berjumpa dengan orang yang memiliki keutamaan, maka katakanlah (dalam hati) bahwa “Dia pasti lebih baik dariku di sisi Allah Swt.” Jika kamu bertemu dengan anak kecil, maka katakanlah (dalam hati) bahwa “Anak kecil ini tidak punya dosa sedangkan saya sudah berdosa, tidak diragukan lagi pasti dia lebih baik dariku.” Jika kamu bertemu dengan orang yang lebih tua, maka katakanlah (dalam hati) bahwa “Orang ini sudah lebih lama beribadah kepada Allah Swt dibandingkan saya, maka pastilah dia lebih baik dariku.” Jika kamu bertemu dengan orang alim, maka katakanlah (dalam hati) bahwa “Orang ini dianugerahi sesuatu yang belum saya miliki, dia paham apa yang saya tidak paham, dan dia mengamalkan ilmunya.” Jika kamu bertemu dengan orang bodoh, maka katakanlah (dalam hati) bahwa “Dia bermaksiat kepada Allah Swt karena ketidaktahuannya, sedang saya bermaksiat padahal saya tahu, saya tidak tahu bagiamana Allah Swt akan mengakhiri (perbuatannya) dan mengakhiri amalku.” Jika kamu bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hati) bahwa “Saya tidak tahu barangkali dia masuk Islam kemudian husnul khatimah, saya juga tidak tahu apakah saya akan kufur dan meninggal dalam keburukan amal. ”Sungguh sangat bijak nasehat Syeikh Abdul Qodir al-Jaelani di atas. Yang pada intinya, setiap muslim diharuskan untuk banyak-banyak bermuhasabah dan mengintropeksi dirinya sendiri.

Merenungi segala sikap dan perbuatannya yang kurang baik di masa lampau untuk diperbaiki di masa yang akan datang. Karena yang demikian itu akan jauh lebih bijak dibanding merasa paling benar dan paling bersih dari dosa, terlebih menganggap orang lain selain dirinya dan golongannya lebih rendah dan lebih hina. Selain menjauhkan diri seorang muslim dari terjerumusnya ke dalam lembah dosa, juga akan meringankan bebannya di hari penghisaban di akhirat kelak. Sebagaimana diriwayatkan dari Umar bin Khattab r.a beliau mengatakan: “Koreksilah (hisablah) diri kalian sebelum kalian dikoreksi (dihisab). Dan berhiaslah dengan amal shalih untuk pagelaran agung pada hari kiamat kelak. Dan sesungguhnya hisab pada hari kiamat kelak akan menjadi ringan hanya bagi orang-orang yang selalu mengoreksi (menghisab) dirinya pada saat hidup di dunia.” (HR. Tirmidzi)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.