Asli atau Palsu?

[et_pb_section admin_label=”section”] [et_pb_row admin_label=”row”] [et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text”]

Asli atau Palsu?
Oleh: Ali Sakti Rambe

Kita yang suka belanja barang-barang tertentu, pertanyaan yang mungkin tidak pernah lepas dari kita adalah “Asli atau Palsu?”

Kenapa asli dan palsu menjadi persoalan yang begitu penting?

Model dan bentuk boleh sama, tapi jangan tanya ketahanannya (kualitasnya). Itulah kenapa asli dan palsu menjadi perlu untuk dipertanyakan. Yang asli, kemana pun ia dibuat, diletakkan, bahkan dilemparkan tetap akan menjadi seperti wujud aslinya. Sementara yang palsu, saat ia berada pada situasi dan kondisi yang berbeda, boleh jadi ia akan pudar, meleleh, rusak dan sebagainya. Ia akan berubah dari wujud yang semestinya.

Dua-duanya memang akan sirna dan berakhir. Yang asli akan berakhir apalagi yang palsu. Yang membedakan mereka adalah perasaan puas. Yang asli akan berakhir dengan kepuasan tersendiri dari si pemakai. Sementara yang palsu akan berakhir dengan umpatan, bahkan tidak menutup kemungkinan berakhir dengan olok-olok hingga caci maki.

Pertanyaan ini akan semakin menarik, perlu, bahkan penting bila ditujukan pada diri sendiri. “Apakah kita asli atau palsu?”

Saat kita menjadi orang yang kastanya menengah ke bawah, kita santun, kita akrab, kita hormat dan bergaul baik dengan orang-orang. Tapi saat kita berada pada situasi dan kondisi yang baru, bergeser naik setingkat menjadi kasta menengah ke atas, apakah kita tetap bisa menjadi diri kita sendiri. Yang hormat, akrab, santun, dan bergaul baik dengan orang-orang.

Jika ia, maka kita adalah asli sebagaimana yang sering orang-orang cari dan pertanyakan. Bagaimana pun situasi dan kondisi yang sedang dijalani, tetap memperlakukan orang lain sebagaimana akrab dan baiknya kita dahulu dengan mereka.

Namun, bila situasi dan kondisi yang baru telah membuat kita berubah dari diri kita yang seharusnya. Mengkerdilkan orang-orang yang dulu kita santun kepada mereka. Memandang rendah orang-orang yang dulu sedikit  banyaknya kita membutuhkan bantuannya. Jangan-jangan kita …..?

Sikap baik, santun, dan pergaulan baik kita selama ini adalah ibarat kualitas dan ketahanan dalam barang asli. Sementara terkikisnya itu semua oleh perbedaan situasi dan kondisi, menjadikan kita besar kemungkinan seperti barang palsu.

Yah… Layaknya barang palsu yang berakhir dengan umpatan, olok-olok, hingga caci maki. Mungkin seperti itulah diri kita sekarang bahkan nanti dalam pandangan orang-orang di sekeliling kita.

[/et_pb_text][/et_pb_column] [/et_pb_row] [/et_pb_section]

Leave a Comment

Your email address will not be published.