Oleh: Ali Sakti Rambe
Guru di Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid
Kab. Tapanuli Selatan

“Dan dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS. An-Nahl: 12)

Di antara sekian banyak makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt, manusia merupakan salah satu makhluk terbaik dan mulia dari ciptaanNya. “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan” (QS. Al-Isra:70) Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuth menjelaskan kemuliaan yang dimaksud dalam surat Al-Isra ayat 70 di atas adalah berupa akal pikiran dan pengetahuan. Akal pikiran menjadi salah satu sebab manusia paling baik penciptaan-Nya di antara makhluk-makhluk lainnya. Karena itu, manusia harus memfungsikan akalnya sesuai dengan petunjuk sunnatullah dan rasulNya, untuk menjadikannnya benar-benar sebagai makhluk terbaik dan mulia.


Akal adalah perangkat lunak yang dianugerahkan oleh Allah Swt kepada manusia sebagai alat untuk memahami agama. Dengan akal manusia dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang pantas dan tidak pantas dikerjakan sesuai dengan rambu-rambu, norma, dan aturan yang telah ditetapkan dalam agama. Imam Ibnu Hajar al-Asyqalani mendefinisikan akal sebagai “Permata ruhani ciptaan Allah Swt yang berada dalam jasad manusia untuk mengetahui sesuatu yang hak dan batil.” Akal ini pula, dalam salah satu hadis rasulullah Saw menjelaskan menjadi permata bagi setiap insan bila ia fungsikan sesuai dengan petunjuk Allah dan rasulNya. Rasulullah Saw bersabda “Ada empat perkara yang menjadi permata dalam tubuh manusia dan dapat hilang karena empat perkara pula. Empat permata tersebut adalah: akal, agama, sifat malu, dan amal saleh.” Berdasarkan hadis di atas, karena akal merupakan salah satu permata yang ada dalam diri setiap manusia, maka sudah selayaknya manusia menjaga dan memfungsikan akalnya dengan baik dan benar, sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an.


Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuth di atas, bahwa salah satu indikator yang membuat manusia itu menjadi makhluk terbaik adalah karena akal pikiran serta ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Karena itu, untuk mengukuhkan derajat manusia sebagai makhluk terbaik dan mulia, maka manusia harus memfungsikan akal dan pikirannya sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunnah rasulullah, serta berusaha mengendalikan hawa nafsunya agar tidak sampai melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh aturan agama. Dalam banyak ayat, Allah Swt sering mengingatkan manusia untuk memfungsikan akal pikirannya lewat “Afalaa yatafakkaruun” “Afalaa yatadabbaruun” “Afalaa ya’qiluun.” Yang kesemuanya itu merupakan perintah dari Allah Swt kepada manusia untuk memfungsikan akal pikirannya agar memperoleh pengetahuan dan hikmah. Dengan jalan itulah manusia akan tetap berdiri kokoh sebagai makhluk terbaik yang diciptakan oleh Allah Swt.


Berikut ini merupakan beberapa cara memfungsikan akal sesuai tuntunan dan petunjuk Al-Qur’an dan sunnah. Pertama, difungsikan sebagai sarana untuk memahami kebenaran. “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44). Menyuruh orang lain berbuat baik sedang diri sendiri tidak melaksanakannya adalah sikap maupun perbuatan yang tidak benar. Sehingga bagi orang yang berakal sehat tidak sepatutnya melakukan yang demikian. Karena itu, fungsi akal di sini adalah sebagai sarana untuk memahami kebenaran.


Kedua, difungsikan sebagai pengendali. Rasulullah Saw bersabda: “Setiap sesuatu memiliki alat dan kendalinya, alat dan kendali bagi seorang muslim adalah akalnya.” Dalam kehidupan, manusia wajib menjaga, mengawasi, serta memastikan dirinya untuk tidak melanggar aturan Allah Swt. Dan yang mengendalikan itu semua adalah akalnya. Karenanya, fungsi akal yang selanjutnya adalah sebagai alat dan kendali bagi seorang muslim untuk memastikan dirinya tidak sampai melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.


Ketiga, difungsikan sebagai sarana untuk berpikir. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di lautan membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (keringnya) dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah: 164). Segala yang ada di alam semesta ini adalah ayat-ayat Allah Swt, baik ayat-ayat qauliyah maupun ayat-ayat kauniyah. Dan manusia berkewajiban untuk mengkaji serta memikirkannya. Dan satu-satunya alat yang dipakai manusia untuk memikirkan hal tersebut adalah akalnya. Maka fungsi akal yang berikutnya adalah sebagai sarana untuk berpikir.

Demikianlah beberapa fungsi akal sesuai petunjuk Al-Qur’an dan sunnah. Tidak menutup kemungkinan bahwa masih banyak lagi fungsi-fungsi akal yang lainnya. Jelasnya, dengan menggunakan akal pikiran untuk memperoleh pengetahuan dan hikmah sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunnah, maka hal tersebut akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang terbaik dan mulia di sisi Allah Swt.