Adab Terhadap Orangtua

Oleh: Ali Sakti Rambe
Guru di Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid
Kab. Tapanuli Selatan


“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-Isra: 23)


Ayat di atas dengan tegas melarang setiap anak untuk berlaku tidak sopan kepada orangtua meskipun sebatas kata “ah.” Melarang membentaknya, serta menyuruh untuk bertutur baik lagi lemah lembut terhadap keduanya. Dengan segala jasa dan pengorbanannya dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya, pantaslah rasanya Allah Swt memerintahkan untuk berbakti kepada orangtua setelah perintah menyembah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra: 23)


Perintah menyembah Allah dan mentaati rasul-Nya adalah wajib mutlak. Hal yang sama sekali tidak bisa ditawar-tawar. Allah Swt yang telah menciptakan, mengatur, dan mengurusi seluruh semesta ini, termasuk diri kita. Sedangkan rasulullah Muhammad Saw adalah penyampai wahyu-wahyu Allah tersebut yang sudah tertuang dan tersusun rapi dalam Al-Qur’an dan hadis-hadisnya. Maka siapa saja yang menginginkan keselamatan dunia dan akhirat hendaklah mencari tuntunan dan petunjuk pada Al-Qur’an dan Hadis. Termasuk tuntunan maupun ajaran berbuat baik dan berbakti kepada kedua orangtua.
Orangtua telah bersusah payah dalam membesarkan anak-anaknya. Segenap hidupnya ia pertaruhkan untuk menjaga, merawat, dan mengusahakan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya agar menjadi anak-anak yang baik lagi sukses. Maka sebagai anak, wajib untuk memperlakukan keduanya dengan baik. Menjaga sikap dan berakhlak baik sepajang waktu dalam kehidupan. Rasulullah Saw sebagai tuntunan dan suri tauladan dalam hidup juga telah banyak memberikan rambu-rambu tentang tata cara bagaimana bersikap kepada orangtua. Di antaranya “Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: Seorang laki-laki datang menghadap nabi Saw bersama seorang yang telah tua. Nabi Saw bertanya, “Siapakah orang yang bersama kamu ini?” Orang itu menjawab, “Itu ayah saya”. Nabi Saw bersabda, “Kamu jangan berjalan mendahului di depannya, jangan duduk sebelum dia duduk, jangan memanggil dengan namanya dan jangan sekali-kali mencacinya”. (HR. Thabrani)


Begitu hebatnya jasa kedua orangtua dalam mengurusi anaknya, sehingga Ali Sakti Rambe dalam bukunya Surga yang Terabaikan mengatakan “Meskipun seluruh sisa umur ini kita pergunakan untuk mengabdi dan berbakti kepada orangtua, tetap saja jasa dan pengorbanan mereka tidak akan pernah terbalas dan terbayar” Kalau begitu, bagaimana seharusnya sikap kita sebagai anak tehadap orangtua?


Untuk lebih jelasnya, berikut ini penjelasan adab-adab yang baik terhadap kedua orangtua oleh para ulama dan ilmuwan muslim. Baik saat berhadapan, maupun di belakang mereka. Imam Al-Ghazali dalam bukunya “Mencapai Hidayah” menjelaskan bagaimana seharusnya adab-adab yang baik antara seorang anak terhadap orangtuanya.

1) Mendengarkan perkataannya walau tidak memerlukan jawaban.
2) Ikut berdiri apabila beliau berdiri sebagai penghormatan.
3) Taat kepada perintahnya walau berbahaya sepanjang tidak maksiat kepada Allah Swt.
4) Tidak melintas di hadapannya tetapi berjalan di samping atau belakangnya, kecuali atas perintah beliau untuk sesuatu
maksud.
5) Tidak mengeraskan suara yang lebih keras daripada suaranya.
6) Menjawab dan memenuhi panggilannya dengan suara yang lembut.
7) Senantiasa memeliahara dan jangan sampai berbuat sesuatu yang melanggar ridhanya, baik dalam sikap maupun kata dan
perbuatan.
8) Merendahkan diri dengan sopan dan lemah lembut serta berusaha untuk senantiasa ikut meringankan beban beliau.
9) Tidak melakukan sesuatu kebaikan kepadanya atas dasar balas jasa melainkan atas dasar kewajiban demi ridhanya dan
ridha Allah Swt.
10) Tidak memandangnya dengan pandagan sinis, atau marah atau berbuka masam.
11) Tidak bermuram wajah ketika menghadap wajahnya.
12) Tidak bepergian jauh kecuali dengan ijinnya.


Berbakti kepada orang tua juga tidak terbatas hanya sepanjang mereka hidup, setelah orangtua meninggal dunia, anak masih tetap diperintahkan untuk berbakti. Dalam hadis rasulullah saw bersabda “Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idy, ia berkata: Pada suatu waktu kami duduk di samping Rasulullah SAW, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dari Bani Salamah, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, apakah masih ada kesempatan berbakti kepada kedua orang tua saya yang bisa saya lakukan sesudah keduanya meninggal?” Beliau SAW menjawab, “Ya, masih ada. Yaitu mnshalatkannya, memohonkan ampunan bagi mereka berdua, menyempurnakan (melaksanakan) janji-janjinya sesudah mereka meninggal, menyambung persaudaraan yang kamu tidak menyambungnya kecuali melalui keduanya, dan memuliakan sahabat-sahabat keduanya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban di dalam hadis shahihnya)

Berakhlak baik dan berbakti kepada orang tua tidaklah terbatas hanya pada penjelasan di atas. Silahkan kita berbakti kepada orang tua, membahagiakan keduanya dengan cara kita masing-masing, sepanjang tidak bertentangan dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis-hadis rasulullah. Semoga kita bisa menjadi anak yang berbakti dan menyenangkan hati kedua orangtua, baik sepanjang mereka hidup maupun setelah meninggalnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.